Kamis, 30 Januari 2014

laporan ptk jigsaww


                                                                          BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang Masalah
Proses kegiatan belajar secara keseluruhan diantaranya tergantung pada interaksi proses pembelajaran antara siswa dan guru yang memegang peranan penting. Peranan guru diharapkan dapat membantu siswa untuk meningkatkan prestasi belajar. Dari berbagai macam masalah yang dihadapi guru maka seorang guru harus berusaha untuk menanggulanginya agar mencapai tujuan dan sasaran pendidikan pada umumnya. Di dalam praktek pengajaran di kelas, permasalahan yang dihadapi antara lain: metode dan model pembelajaran yang kurang bervariasi, masih banyak guru yang menerapkan pembelajaran dengan menjelaskan materi dengan anggapan pengetahuan dapat dipindahkan ke siswa sebagai objek belajar.
Menurut Moh. Amin (1990: 57). Kita dihadapkan pada masih adanya gejala-gejala dalam praktek pendidikan (pengajaran) di sekolah menengah dan perguruan tinggi, antara lain: masih banyak sistem pengajaran di sekolah menengah dan perguruan tinggi berjalan secara tradisional yang akan menghambat siswa dan mahasiswa untuk dapat belajar aktif dan kreatif, mengalami dan menghayati sendiri dalam proses kegiatan belajarnya. Masih banyak guru dan dosen (sadar atau tidan sadar) menganggap bahwa siswa atau mahasiswa sebagai “objek belajar” saja daripada sebagai “subjek belajar” yang perlu dimanifestasikan potensinya sebagai pribadi mandiri (self-actualized person) menuju pembentukan manusia seutuhnya.
Perencanaan dan implementasi proses pembelajaran yang dilakukan guru-guru IPA tampaknya sebagian masih berasumsi bahwa pengetahuan dapat dipindahkan secara utuh dari pikiran guru ke pikiran siswa. Masih banyak guru yang beranggapan, setelah proses pembelajaran dalam kepala siswa terdapat tiruan (copy) pengetahuan yang persis sama dengan yang mereka miliki. Dengan cara tersebut ternyata hasil belajar yang dicapai siswa-siswa belum sesuai dengan harapan.  Dengan asumsi demikian membuat guru berusaha untuk mencari cara-cara yang lebih efektif
IPA merupakan salah satu bagian dari Ilmu pengetahuan yang sangat besar  pengaruhnya untuk penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pembelajaran IPA juga  lebih menekankan kegiatan belajar mengajar, mengembangkan konsep dan keterampilan proses siswa dengan berbagai metoda mengajar yang sesuai dengan bahan kajian yang diajarkan (Anonimus, 1995).
Dalam pembelajaran IPA, khususnya sangat diperlukan strategi pembelajaran yang tepat yang dapat melibatkan siswa seoptimal mungkin baik secara intelektual maupun emosional. Karena pengajaran IPA menekankan pada keterampilan proses.
Keberhasilan proses dan hasil pembelajaran di kelas dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain adalah interaksi antara guru dan siswa, penguasaan materi, media dan model pembelajaran. Selain menguasai materi seorang guru juga harus pandai memilih model pembelajaran yang disesuaikan materi tersebut. Guru harus menciptakan suasana kelas yang menghidupkan keaktivan dan ketertarikan siswa terhadap materi yang akan disampaikan. Diharapkan keaktivan dan motivasi siswa dalam proses pembelajaran ini akan meningkatkan hasil belajar yang diharapkan.
Kekurangaktifan siswa belajar secara efektif dapat dinyatakan dalam bentuk sebagai berikut: hasil belajar siswa pada umumnya hanya sampai pada tingkat penguasaan, merupakan bentuk menghafal  tentang apa yang dapat dicatat dari penjelasan guru atau dari buku-buku. Apabila telah hafal, maka siswa telah merasa cukup. Ini berarti hasil belajarnya hanya sampai pada tingkat penguasaan saja, sumber-sumber belajar yang digunakan umumnya terbatas pada guru (catatan penjelasan dari guru) dari satu dua buku. Berarti sumber-sumber belajar yang dimanfaatkan dalam belajar terbatas sekali sehingga aktivitas belajar siswa kurang optimal (Sudirman,1991:99).  
Model pembelajaran yang dipilih seorang guru hendaknya diarahkan untuk dapat meningkatan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran. Interaksi antara guru dan siswa yang optimal dan efektif dapat meningkatkan penguasaan konsep siswa yang berpengaruh dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Peran guru yang kreatif dapat membuat pembelajaran IPA menjadi lebih baik, menarik dan disukai oleh peserta didik demikian pula dengan  suasana kelas perlu direncanakan. Dengan memilih model pembelajaran yang tepat membuat siswa agar memperoleh kesempatan untuk berinteraksi satu sama lain sehingga  siswa dapat memperoleh hasil belajar yang optimal.
Model pembelajaran kooperatif  merupakan salah satu model untuk merangsang aktivitas siswa yang saling berinteraksi satu sama lain melakukan pembelajaran  secara kelompok, dimana pembelajaran bergantung kepada interaksi antara ahli-ahli dalam kelompok, setiap siswa bertanggung jawab terhadap proses pembelajaran di kelas dan juga di dalam kelompoknya. Model ini memungkinkan siswa terlibat secara aktif, sehingga motivasi dan aktifitas siswa akan meningkat. Model Pembelajaran Kooperatif adalah salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan aktifitas siswa, meningkatkan interaksi, meningkatkan penguasaan siswa terhadap materi. Salah satu pendekatan dari model pembelajaraan Kooperatif adalah Pendekatan Jigsaw, pada pendekatan ini memberikan pendekatan pada siswa agar  bekerja sama dan saling membantu dalam kelompok kecil dan lebih pada penghargaan kooperatif dan penghargaan individu.
Dari kondisi permasalahan ini penulis mengajukan judul penelitian tindakan kelas (PTK) dengan judul “Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Kelas XII SMKN 11 Bandung Dalam Sub Konsep Siklus Biogeokimia Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw”.

B. Perumusan Masalah
            Berdasarkan uraian latar belakang masalah yang telah diuraikan maka dapat dirumuskan masalah yang ingin diteliti sebagai berikut:
“Apakah pendekatan model Jigsaw dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa ?”

C. Tujuan Penelitian
            Untuk mengetahui apakah terdapat peningkatan aktivitas belajar siswa dalam sub konsep siklus biogeokimia dengan pembelajaran menggunakan model Jigsaw.
1.      Untuk mengetahui pengaruh aktivitas belajar siswa setelah diterapkannya model Jigsaw pada siswa kelas XII SMKN 11 Bandung.
2.      Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa setelah diterapkannya model Jigsaw pada siswa kelas XII SMKN 11 Bandung.

D. Manfaat Hasil Penelitian
1. Bagi Siswa
a.      Menumbuhkan aktivitas siswa antar kelompok untuk menambah dan bertukar informasi tentang ilmu pengetahuan, sehingga wawasan semakin luas.
b.      Membangkitkan minat belajar IPA dengan tingginya minat belajar diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar biologi.
2. Bagi Guru
a.  Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah kemampuan guru dalam memilih   model, cara dan strategi yang diterapkan dalam proses pembelajaran.
3. Bagi Sekolah
a. Meningkatkan prestasi sekolah dalam bidang akademik
b. Meningkatkan kinerja sekolah melalui peningkatan keprofesionalan guru 

E. Hipotesis Tindakan
            Hipotesis dalam penelitian tindakan ini adalah:
Dengan menerapkan model pembelajaran tipe jigsaw dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Kota Dinas Pendidikan Bandung. 2004. Model-model Pembelajaran. Bandung: SMP Kartika XI.
Djamarah dan  Zain. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta:  Rineka Cipta.
Ibrahim, M. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: Program Pasca Sarjana Unesa.
Lie Anita. 2007. Cooperative Learning. Jakarta: Grasindo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar