BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Proses kegiatan belajar secara
keseluruhan diantaranya tergantung pada interaksi proses pembelajaran antara
siswa dan guru yang memegang peranan penting. Peranan guru diharapkan dapat
membantu siswa untuk meningkatkan prestasi belajar. Dari berbagai macam masalah
yang dihadapi guru maka seorang guru harus berusaha untuk menanggulanginya agar
mencapai tujuan dan sasaran pendidikan pada umumnya. Di dalam praktek
pengajaran di kelas, permasalahan yang dihadapi antara lain: metode dan model
pembelajaran yang kurang bervariasi, masih banyak guru yang menerapkan
pembelajaran dengan menjelaskan materi dengan anggapan pengetahuan dapat
dipindahkan ke siswa sebagai objek belajar.
Menurut Moh. Amin (1990: 57). Kita dihadapkan
pada masih adanya gejala-gejala dalam praktek pendidikan (pengajaran) di
sekolah menengah dan perguruan tinggi, antara lain: masih banyak sistem
pengajaran di sekolah menengah dan perguruan tinggi berjalan secara tradisional
yang akan menghambat siswa dan mahasiswa untuk dapat belajar aktif dan kreatif,
mengalami dan menghayati sendiri dalam proses kegiatan belajarnya. Masih banyak
guru dan dosen (sadar atau tidan sadar) menganggap bahwa siswa atau mahasiswa
sebagai “objek belajar” saja daripada sebagai “subjek belajar” yang perlu
dimanifestasikan potensinya sebagai pribadi mandiri (self-actualized person)
menuju pembentukan manusia seutuhnya.
Perencanaan dan implementasi proses
pembelajaran yang dilakukan guru-guru IPA tampaknya sebagian masih berasumsi
bahwa pengetahuan dapat dipindahkan secara utuh dari pikiran guru ke pikiran
siswa. Masih banyak guru yang beranggapan, setelah proses pembelajaran dalam
kepala siswa terdapat tiruan (copy) pengetahuan yang persis sama dengan yang
mereka miliki. Dengan cara tersebut ternyata hasil belajar yang dicapai
siswa-siswa belum sesuai dengan harapan.
Dengan asumsi demikian membuat guru berusaha untuk mencari cara-cara
yang lebih efektif
IPA
merupakan salah satu bagian dari Ilmu pengetahuan yang sangat besar pengaruhnya untuk penguasaan ilmu pengetahuan
dan teknologi. Pembelajaran IPA juga
lebih menekankan kegiatan belajar mengajar, mengembangkan konsep dan
keterampilan proses siswa dengan berbagai metoda mengajar yang sesuai dengan
bahan kajian yang diajarkan (Anonimus, 1995).
Dalam
pembelajaran IPA, khususnya sangat diperlukan strategi pembelajaran yang tepat
yang dapat melibatkan siswa seoptimal mungkin baik secara intelektual maupun
emosional. Karena pengajaran IPA menekankan pada keterampilan proses.
Keberhasilan
proses dan hasil pembelajaran di kelas dipengaruhi oleh beberapa faktor antara
lain adalah interaksi antara guru dan siswa, penguasaan materi, media dan model
pembelajaran. Selain menguasai materi seorang guru juga harus pandai memilih
model pembelajaran yang disesuaikan materi tersebut. Guru harus menciptakan
suasana kelas yang menghidupkan keaktivan dan ketertarikan siswa terhadap
materi yang akan disampaikan. Diharapkan keaktivan dan motivasi siswa dalam
proses pembelajaran ini akan meningkatkan hasil belajar yang diharapkan.
Kekurangaktifan
siswa belajar secara efektif dapat dinyatakan dalam bentuk sebagai berikut:
hasil belajar siswa pada umumnya hanya sampai pada tingkat penguasaan, merupakan
bentuk menghafal tentang apa yang dapat
dicatat dari penjelasan guru atau dari buku-buku. Apabila telah hafal, maka
siswa telah merasa cukup. Ini berarti hasil belajarnya hanya sampai pada
tingkat penguasaan saja, sumber-sumber belajar yang digunakan umumnya terbatas
pada guru (catatan penjelasan dari guru) dari satu dua buku. Berarti
sumber-sumber belajar yang dimanfaatkan dalam belajar terbatas sekali sehingga
aktivitas belajar siswa kurang optimal (Sudirman,1991:99).
Model pembelajaran yang dipilih
seorang guru hendaknya diarahkan untuk dapat meningkatan aktivitas siswa dalam
proses pembelajaran. Interaksi antara guru dan siswa yang optimal dan efektif
dapat meningkatkan penguasaan konsep siswa yang berpengaruh dalam meningkatkan
prestasi belajar siswa. Peran guru yang kreatif dapat membuat pembelajaran IPA
menjadi lebih baik, menarik dan disukai oleh peserta didik demikian pula dengan
suasana kelas perlu direncanakan. Dengan
memilih model pembelajaran yang tepat membuat siswa agar memperoleh kesempatan
untuk berinteraksi satu sama lain sehingga
siswa dapat memperoleh hasil belajar yang optimal.
Model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model untuk merangsang aktivitas
siswa yang saling berinteraksi satu sama lain melakukan pembelajaran secara kelompok, dimana pembelajaran
bergantung kepada interaksi antara ahli-ahli dalam kelompok, setiap siswa
bertanggung jawab terhadap proses pembelajaran di kelas dan juga di dalam
kelompoknya. Model ini memungkinkan siswa terlibat secara aktif,
sehingga motivasi dan aktifitas siswa akan meningkat. Model Pembelajaran Kooperatif adalah salah satu model
pembelajaran yang dapat meningkatkan aktifitas siswa, meningkatkan interaksi,
meningkatkan penguasaan siswa terhadap materi. Salah satu pendekatan dari model
pembelajaraan Kooperatif adalah Pendekatan Jigsaw, pada pendekatan ini
memberikan pendekatan pada siswa agar
bekerja sama dan saling membantu dalam kelompok kecil dan lebih pada
penghargaan kooperatif dan penghargaan individu.
Dari kondisi permasalahan ini penulis
mengajukan judul penelitian tindakan kelas (PTK) dengan judul “Meningkatkan
Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Kelas XII SMKN 11 Bandung Dalam Sub Konsep
Siklus Biogeokimia Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw”.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan
uraian latar belakang masalah yang telah diuraikan maka dapat dirumuskan
masalah yang ingin diteliti sebagai berikut:
“Apakah pendekatan model Jigsaw dapat
meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa ?”
C. Tujuan Penelitian
Untuk
mengetahui apakah terdapat peningkatan aktivitas belajar siswa dalam sub konsep
siklus biogeokimia dengan pembelajaran menggunakan model Jigsaw.
1. Untuk mengetahui pengaruh aktivitas belajar
siswa setelah diterapkannya model Jigsaw pada siswa kelas XII SMKN 11 Bandung.
2. Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar
siswa setelah diterapkannya model Jigsaw pada siswa kelas XII SMKN 11 Bandung.
D. Manfaat Hasil Penelitian
1. Bagi Siswa
a.
Menumbuhkan aktivitas siswa antar kelompok
untuk menambah dan bertukar informasi tentang ilmu pengetahuan, sehingga
wawasan semakin luas.
b.
Membangkitkan minat belajar IPA dengan
tingginya minat belajar diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar biologi.
2.
Bagi Guru
a. Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat
menambah kemampuan guru dalam memilih
model, cara dan strategi yang diterapkan dalam proses pembelajaran.
3. Bagi
Sekolah
a.
Meningkatkan prestasi sekolah dalam bidang akademik
b.
Meningkatkan kinerja sekolah melalui peningkatan keprofesionalan guru
E. Hipotesis
Tindakan
Hipotesis dalam penelitian tindakan
ini adalah:
Dengan menerapkan
model pembelajaran tipe jigsaw dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar
siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Kota Dinas Pendidikan Bandung. 2004. Model-model Pembelajaran. Bandung: SMP
Kartika XI.
Djamarah dan
Zain. 2002. Strategi Belajar
Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Ibrahim, M. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: Program Pasca Sarjana Unesa.
Lie Anita. 2007. Cooperative Learning. Jakarta: Grasindo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar